hari ini gue membisikkan sesuatu
"merasalah cukup"
ya, bukankah itu adil? ketika kamu tidak bisa menjadi seperti orang lain.
dan, di saat yang sama, orang lain pun tidak bisa menjadi seperti kamu,
memang bener ya, kita ga boleh asal ngomong dan ngomentarin kalo kita belum bener2 terjun ke dunia itu.

contohnya, dalam politik.
begitu banyak kritikus politik.
mending kalo yg authorized, tapi kritikus politik itu sebenernya kan bisa siapa aja. mulai dari tukang becak sampe direktur bank kalo dia lagi ngomentarin politik yang berarti saat itu dia sedang menjadi kritikus politik.
sayang, banyak yang minim pengalaman makanya mereka asal melontarkan pemikirannya saja tanpa didasari pengetahuan yang mumpuni.
hanya bisa menilai salah, salah, dan salah. dpr itu salah. kabinet itu sampah. presiden pencitraan. parpol mata duitan.

dan salah satunya pernah gue alamin. gue pernah mikir dengan naif bahwa ngapain sih seorang presiden bagi2 kursi? kenapa sih dia ngerasa punya utang gitu sama partai? dan dulu, gue cuma langsung menghakimi hal itu "salah".

sampai akhirnya, gue manjadi campaign manager seorang kandidat mpm di fakultas gue, dan gue merasakan........ bweh, repot banget. kalo gue boleh ngeluh dan jujur di sini, gak enak banget parah. gue kudu dateng ke kampus lebih pagi dan pulang lebih sore. harus nemenin ikut sidang berjam2. harus bawa laptop tiap dibutuhin. harus bawa kamera slr yang berat parah. harus ikut mikirin baju, atribut, dll. padahal kalo dipikir....... gue ngelakuin itu juga buat apa sih. buat dia kan? yg mau jadi mpm kan dia kenapa gua yang repot.

gua pikir, gua doang yang berpikiran serba ngeluh kayak gitu...

namun ternyata, seorang Campaign Team kandidat lain, disingkat CT, curhat ke gue
ternyata dia juga merasakan hal yg sama kayak gue

malem2, CT itu ditelepon sama kandidatnya, disuruh bantu mikir bikin materi, bikin bahan publikasi, iuran uang untuk bikin brosur, ngabisin waktu, ngabisin tenaga, ngabisin ide... capek hati....

dan CT itu ngomong ke gue,

"ngapain juga ya gue bela2in bantu dia, toh ntar juga apa untungnya buat gue kalo dia jadi mpm?"

nah, that's..... gue langsung dapet insight gitu begitu denger perkataannya.
emang bener men, bantu orang kampanye itu emang nyiksa batin. karena kita udah capek2 bantu tapi yang diangkat kan dia, kita mah apa atuh...

apa untungnya buat kita kalo dia jadi mpm
menurut gue, kata2 ini nyes banget. emang ya, sebagai seorang yang semakin rasional, kita menginginkan hal yang "impas". kita dibuat capek, ya kita harus dapet keuntungan dari capeknya kita itu.
dan secapek2nya gue, gue rasa jadi tim sukses kandidat di fakultas sih yah... masih ecek2 lah ya dibanding kandidat presiden, anggota dpr, dll
toh kita kampanye ga lebih dari sebulan, duit yg keluar juga ga seberapa.......

tapi asli, gue bisa sedikit mengerti kenapa ada tradisi bagi2 kursi gitu. ya mungkin, ada berbagai emosi serba ga enak juga sama orang yg udah membantu kita ada di posisi tinggi tapi kita ga ada rasa terimakasih sama sekali pada orang tersebut.
mau sasarannya rakyat apa gimana, tapi kan yang membantu anggota dpr banget2 tuh kan parpolnya. jadi pertama2 dia harus muasin parpol dulu, rakyat mah belakangan...

walopun begitu, gue gak memaklumi perbuatan mereka sih. menurut gua.... terkadang pemilu itu sendiri yg sistemnya agak salah. sama sekali nggak efisien. banyak duit keluar selama prosesnya, baik dari pemerintah maupun dari kandidatnya. gue agak setuju dengan gerakan turun tangannya mas anies yg mencetuskan kesadaran terhadap diri sendiri untuk berkontribusi tanpa perlu lebay2 ngeluarin duit buat kampanye mahal macam masang iklan sampe kerjasama ama stasiun tv.

ya udah lah pokoknya gitu. sori kalo salah, gue bukan anak politik sih, gue anak fakultas di sebelahnya fisip :v

meski gue masih ragu apakah gue "masokis" atau tidak, tapi gue bisa dibilang sebagai manusia yang menyukai "sakit" dalam arti khusus...

gue menyukai "sakit" karena itu adalah tanda dari badan gue bahwa gue harus berhenti. seolah badan gue bilang, "you've tried so hard, mir. now, you must take a rest."

dengan sakit, gue bisa beristirahat dengan tenang tanpa rasa bersalah, karena gue memang butuh. gue emang terkadang berlebihan dalam berusaha. gue bisa belajar dari pagi sampe tengah malem non stop, dan akhirnya, yang menyelamatkan gue adalah rasa sakit. rasa sakit yang bikin gue berhenti memaksakan diri.

dalam beberapa situasi, gue membutuhkan rasa sakit, walaupun tentu saja, in general, i prefer to be fit.
dulu gue sempet kepikiran, kenapa orangtua begitu berkorban buat anaknya. kenapa mereka mau uang yang mereka hasilkan dihabiskan untuk keperluan anaknya? apakah mereka tidak sedikitpun merasa keberatan? merasa kerugian? merasa bahwa mereka memiliki piutang dari anaknya?

jawaban saya sejak lama itu terjawab ketika di acara mata najwa tadi, ibunya ade sara diundang dan beliau berkata kira2 begini: "dulu waktu sara masih ada, tiap saya gajian suka ngegodain, bilangnya dia mau nraktir padahal akhir2nya dia ngerayu saya buat bayar... ada aja caranya anak itu. setelah sara nggak ada, semangat saya kerja jadi sempat hilang. karena saya juga nggak tahu lagi kan biasanya saya kerja buat anak saya, terus setelah nggak ada, jadi buat apa..."

hhh... walopun gue belum menjadi orangtua, rasanya gue bisa memahami perasaan seperti itu sekarang. terlebih, gue juga menjadi agak seperti itu. walaupun bukan soal materi.

sewaktu sd-smp, gue sekolah karena merasa itu sebagai kewajiban gue, bukan hak gue.

sma, gue sekolah dan berusaha untuk mencapai prestasi dan nilai yang sebaik2nya (mungkin kalo lo se-sma sama gue, lo tau tentang ini).. but unfortunately, it was just for the sake of my own pride.

di kuliah, gue baru merasa... di sini nggak ada lagi yang namanya bangga-banggain diri buat diri sendiri. nggak ada lagi yang namanya nampang cuma demi dianggep "wah". gue melihat, baik gue dan temen2 di sekitar gue, berkuliah justru untuk orangtua mereka. kami ingin kuliah dan mendapatkan nilai yang baik untuk orangtua kami, bukan untuk kebanggaan diri kami.

well, gue... gue pengen cum laude, tapi entahlah. kalau itu terlalu tinggi untuk gue capai, minimal gue bisa lulus dengan nilai yg enggak malu2in. sampai saat ini pun, nilai gue masih sangat standar. tapi gue akan berusaha, buat selalu meningkatkan tanpa memaksakan diri.

kakak senior gue bilang, ip semester pertama biasanya adalah ip terbaik bagi warga psikologi. tapi gue akan coba, ip gue di semester pertama ini bukan ip gue yang paling bagus. gue akan coba sebisa mungkin ip gue di semester 2 dan seterusnya lebih bagus dari ip di semester pertama. may Allah bless me :)
mari kita buka sesi kali ini dengan mengenal istilah "learned helplessness". dari yang gue tangkap, learned helplessness adalah situasi ketika manusia maupun binatang belajar bahwa apapun yang ia lakukan tidak akan mencegah hasil yang buruk. ia tidak punya kendali untuk menghindari kesialan yang akan menimpalinya. ia berada dalam posisi ketidakberdayaan.

as example, lo belajar maupun nggak belajar nilai ulangan lo tetep jelek. lo merasa tidak punya kuasa untuk mengubah nilai yang jelek itu. dan pada akhirnya, lo, nggak melakukan apa-apa.

manusia, pada dasarnya, punya cita2. manusia harus memiliki motivasi. kalau tidak punya motivasi, sedapat mungkin ia berusaha untuk mencarinya.

dari sekian cita2 yang ada pada manusia, mungkin hanya beberapa yang bisa tercapai, dan sisanya tidak atau belum tercapai.

namun, bagaimana jika ia berada dalam posisi ketidakberdayaan? setiap kali bercita2, cita2nya selalu kandas.

apa sih kejadian buruk yang dapat dialami oleh manusia?

untuk anak kecil, seburuk2nya hal yang dapat ia alami misalnya saja: dimarahi oleh orang tua, berantem dengan teman sebaya karena punya tempat minum yang samaan, dan ngompol di celana lalu ditertawai oleh seluruh teman2nya.

untuk remaja, seburuk2nya hal yang dapat ia alami misalnya saja: masalah keluarga, ditambah di sekolah susah sekali untuk mendapatkan nilai bagus, merasa terasing dari pergaulan, merasa lawan jenis tidak mungkin tetarik padanya sekalipun ia sebenarnya penasaran dengan pengalaman pacaran-yang-agak-geli-itu, ngeliat temen2nya bisa beli barang branded sementara orangtuanya sangat pelit, dll. (i am a teenager so i know our problem very well :v)

untuk dewasa, seburuk2nya hal yang dapat ia alami tentu saja jauh lebih kompleks lagi. orang dewasa lah yang bertanggung jawab atas semua, mulai dari ekonomi, pangan, hingga kesalahan yang dilakukan anak pun menjadi konsekuensi yang harus mereka tanggung.

yang gue sebutkan tadi adalah masalah2 umum yang mungkin terjadi pada setiap orang. gue gak akan bahas tragedi yang gak semua orang pernah merasakan.

dan gue... hanya pengen bilang, bahwa nilai bagus, teman yang banyak, dan punya barang2 branded bukan jaminan lo akan bahagia.

manusia adalah makhluk yang penuh kecurigaan terhadap sesamanya selain ia juga tidak mudah bersyukur, rite?

anak orang kaya yang nilainya bagus2, dikelilingi oleh orang2 yang mengaku temannya dan sebenarnya hanya...... menjilat. dan dia sadar akan hal itu. apakah dia bahagia?

mungkin dia akan berpikir lebih baik dia menjadi murid yang biasa saja. yang tidak bernilai bagus tapi bisa menjalani sekolah dengan enjoy dan punya banyak teman yang tulus.

dan bukan berarti ketika si bintang kelas itu suatu saat menjadi orang biasa di lingkungan baru lantas dia akan bahagia. anak yang banyak teman namun nilainya biasa2 aja dan terlihat enjoy pun bisa saja sebenarnya mereka diam2 belajar dengan keras, mengharapkan nilai bagus, namun hasil yang mereka dapat selalu tidak sebanding dengan usaha mereka. sementara orang lain hanya dengan usaha yang sedikit bisa mendapatkan nilai lebih bagus dari mereka.

dan lebih parah lagi kalau... lo dapet nilai bagus nggak, punya temen yg bener2 bisa diandalkan juga nggak. well, you're in learned helplessness circle!

tapi, apa lo bener2 ga bisa berbuat apa2? apa lo bener2 nggak berdaya? nggak.

salah satu saingan gua sewaktu SMA dan satu2nya orang yang gak bisa gua kalahkan berhubung jurusan kita berbeda pernah bilang, "saat lo ngerasa nggak bisa jadi apa2, percayalah, lo masih bisa jadi orang baik."

yep, lo mau ngerasa diri lo paling buruk kek atau apa... tapi... yaudah. try to be kind.
lo jelek? iya. akuilah itu. gausah berusaha buat terlihat baik dengan nyari2 kambing hitam. ga usah nyari orang lain yg lebih jelek dari lo. gaperlu lagi jelek2in orang lain biar lo ngerasa tinggi.

instead, lo harus coba jadi baik! baik, ya, baik gimana? gue tau baik itu relatif banget. ya cobalah jadi baik yang umum2 aja. jadi orang yang mau membantu orang lain yang kesulitan...
jadi orang yang pemaaf...
jadi orang yang berusaha nggak nyakitin orang lain dengan kata2...
jadi orang yang sebisa mungkin berpikiran positif terhadap orang lain...
jadi orang yang dekat dengan orangtua dan Tuhan...
dengan lo berbuat baik, lo akan lupa bahwa diri lo jelek. lo akan nyaman dengan diri lo, sekalipun lo sadar lo berotak udang, lo loser dalam pergaulan, but at least, you never think to hurt others.
emang sih, kadang sekalipun kita ga punya niat nyakitin, kata2 yang keluar dari mulut kita ditangkepnya sebagai sebuah kata yang menyakitkan bagi orang lain.

tapi.....jangan nyerah. yang penting adalah, bagaimana niat lo sesungguhnya.

dan lagi, baik yang gue maksud adalah beda dari suci. orang baik, belom tentu suci.
emm, buat menyamakan persepsi. gue memandang orang suci itu sebagai orang yang gak tersentuh keburukan. biasanya orang kayak gitu emang dibimbing sama orangtuanya sejak kecil tentang gimana berperilaku. dan biasanya juga nggak banyak godaan buat dia buat nyoba hal2 negatif karena hidupnya cukup tentram.

dan menurut gue... orang baik yang menarik adalah orang yang udah nyobain segala macem dosa kemudian... ting! dia sadar dan kembali ke jalan yang lurus atau sedang dalam proses menuju jalan yang lurus.

orang yang udah nyobain segala macem dosa kemudian dia sadar itu lebih bijak daripada orang suci. itu menurut pengalaman gue sih.

ya misalnya aja, temen gue yang cewek dan suci yang ga pernah nyoba ngerokok cuma bakal ngejudge rokok tuh jelek lalalala ngerokok tuh ga boleh, ngerokok tuh parah. mereka ngomong banyak hal dengan kondisi mereka emang selama ini jauh dari rokok dan ga ada godaan buat mereka ngerokok karena dari awal mereka emang udah benci duluan.

beda sama temen gue yang mantan perokok. pernah jadi pecandu, terus berenti. terus dia ngomong, "ngerokok tuh ternyata ga bikin bahagia2 amat kok. rileksnya ngerokok juga fana banget. cobain ya ga usah ngerokok lagi lah." omongan kayak gitu, menurut gua lebih ada bobotnya. dia sempet kenal, dia sempet tau kalo ngerokok itu ada enaknya, dan ga sekedar menghakimi kalo itu salah padahal gatau apa2.

gue pokoknya banyak lah ketemu sama anak "bermasalah" yang justru bijak banget dibanding anak yang hidupnya tentram dan fun2 aja. mereka lebih punya banyak pengalaman dan pergolakan batin yg bisa mereka share ke orang yg mereka percaya, ea.

dan tolong jangan salah paham kalo tulisan ini nyuruh kalian jadi bandel, justru maksud gue, jangan mikir ada kata terlambat buat anak2 yg bandel, dan jangan nyudutin orang di sekitar kalian yg bandel. gue yakin, ada alesan yang lebih dalam bagi mereka yang ikut tawuran dan geng motor daripada sekedar ikut2an. dan jangan lah lo anggep mereka paling buruk kalo lo hanya bisa berkomentar tapi lo sendiri ga ngasih kontribusi apapun buat meminimalisir angka kenakalan yang tinggi itu di inodonesia. cemoohan dan labelling ga akan membantu, guys. justru hanya akan membuat orang2 seperti itu merasa semakin buruk dan pada akhirnya ingin memberontak lebih gila lagi.
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home