Tomorrow is the day.
Anyway, long time no blogging. I didn't even talk about how my 4th term goes like I used to. Strange it is. I wonder do I still want to live. I can't say I do, but I think I should.

Life is full of excitement, but death is peaceful.
I wish I can wake up tomorrow and see my family's faces... and some of friends too.
I wish my surgery goes well.
I wish I can post something funnier than this next time.
Write this post on my phone but i guess i'm fine

So this is my midnight thought... Eat this.

---------------------------------

Hai, masih doyan ngestalk gue?

Silakan baca dengan tenang dan kalau kita berjumpa nanti silakan ungkit post-post gue sepuasnya.

Ada hal yang nggak gue mengerti sejak gue kecil. Tapi dulu gue mungkin nggak memikirkannya terlalu jauh, baru sekarang gue benar-benar memikirkannya.

Gue ingin sekali bertanya, apa tujuan lo ngestalk gue, menjadikan hasil stalkan lo itu senjata buat mengintimidasi gue, mengomentari segala hal (nggak "segala" juga sih, gue cuma melebih-lebihkan biar kayak media jaman sekarang) yang gue post di sosmed, lo sebenernya mau membentuk gue kayak apa? Kayak sosok anak baik yang ada di khayalan looooo?

Gue mau tekankan sesuatu, lo bahkan bukan orang tua gue.

Lo mau membentuk gue kayak anak-anak lo?

Lo beranggapan anak-anak lo itu terbaik dan gue seharusnya bisa kayak mereka?

Iya terbaik, dari sudut pandang lo.

Iya baik, dari dunia yang lo lihat.

Bukan dunia gue.

Ataupun dunia orang lain.

Sadarkah lo bahwa bumi ini satu tapi dunia itu tidak? Tiap orang dapat memiliki dunia yang berbeda-beda, bagaimana mungkin kamu mengharapkan semua orang berada dalam dunia yang sama denganmu?

Dan bagaimana mungkin lo berharap dunia lo yang paling benar?

Sadar, lo bukan anak kecil lagi.

Se-egois itu.

Se-merasa paling benar itu.

Se-merasa indera lo paling akurat dalam menangkap informasi.

Banyak cerita orang lain yang lo gak tau.

Termasuk gue, lo gak tau kenapa gue bisa jadi orang seperti ini. So shut up. Lo nemu hal yang salah dari gue? Itu adalah bagian dari diri gue yang membentuk kedewasaan gue, membentuk jati diri gue, dan terdapat banyak alasan di dalamnya. Alasan mengapa gue melakukan hal-hal yang menurut lo mungkin aneh, menyimpang, atau pantas ditertawakan.

Lo, gak tau cerita hidup gue. So shut up. Lo mungkin merasa kenal, dan dekat dengan gue. Gue nggak.

Lo juga nggak tahu semua hal tentang anak-anak lo, mereka gak sesempurna itu, madam. Afterall, mereka yang pernah bikin gue hampir commit suicide waktu kecil.

And for that case, i feel really regret from the bottom of my brain. And i wont be that weak anymore, at least for now and hopely also for the future.

Gue ga masalah sih lo mau setenggelam apa di dalam dogma tempat lo berenang di dunia selama ini, tapi jangan paksa orang lain ikut nyemplung ke dalemnya aje.

Tertanda, Amira, definitely not your kind of obedient girl.
Sebagian orang di sana koar-koar membela feminisme.
Di seberang jalan, sebagian orang yang berbeda berbisik, "Halah? Apaan sih feminisme-feminisme? Nggak ada itu yang namanya kesetaraan gender! Yang ada itu Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban masing-masing!"

Enak sih untuk diomong, tapi gue pribadi ada pada posisi di mana FEMINISME EMANG DIBUTUHKAN, BANGET.
Mulai dari ilmu pengetahuan, buku-buku tentang manusia yang gue pegang di bangku kuliah, ketika ngomongin gejala psikotik pada laki-laki itu panjangnyaaaaaa segambreng. Giliran ngomongin kalo di perempuan kayak gimana.... gak sampe setengah panjangnya bacaan yang tentang laki-laki.

Kalo lo gak nangkep, yang gue ceritakan di atas tadi indicates that ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini masih maskulin banget. Dengan kata lain, diteliti oleh laki-laki, diuji oleh laki-laki, dengan partisipan laki-laki juga. Pertanyaannya, lalu apakah teori-teori tersebut dapat digeneralisasikan ke perempuan? Nah, di sinilah feminisme bermain. Inilah kenapa kita butuh kesetaraan gender dalam ilmu pengetahuan, agar perempuan diberikan kesempatan juga untuk "membuat teori" tidak hanya "menerima teori". Dan juga, agar ilmu pengetahuan ini bukan hanya menjadi "milik laki-laki".

Sebenernya gue nggak mau panjang lebar ngomongin ilmu pengetahuan, gue mau ngomongin feminisme ke hal yang lebih dekat dengan hidup kita aja.

Yaitu kasus pemerkosaan dan hubungan anu di luar nikah.

(Btw, did i mention "lebih dekat dengan hidup kita"? LOL! Gajadi deh, semoga hal ini jauh dari hidup kita ya!"

Gue bukan anak baik-baik, dalam arti temen gua sangat beragam. Temen gue bukan cuma orang alim yang rajin gerejaan atau rajin liqo (walopun yang setipe itu ada juga sih), gue juga punya temen yang pernah diperkosa, disodomi, atau sebatas yang pacarannya udah berlebihan.

Masyarakat sekarang mungkin udah lebih "melek" bahwa bagaimanapun dalam perkosaan, kesalahan ada pada pelaku. Faktor pendukung mungkin datang dari korban tapi tetap saja itu BUKAN SALAH KORBAN. Makanya, miris banget banyak korban perkosaan yang nggak ngaku, hanya karena dia malu sudah nggak suci lagi.

Girl, lo korban. Lo nggak seharusnya ngerasa malu karena lo nggak salah apa-apa. Yang seharusnya ngerasa paling malu itu si pelaku dengan segala perbuatan setan yang telah dia lakukan!

Tapi yang ada, kebalik. Pelaku yang ditangkep cuma ngerasa "shit perbuatan gue ketahuan gue jadi harus masuk penjara", tapi yang nerima beban psikologis paling berat tetep aja si korban.

Nggak cuma perkosaan, pacaran yang berlebihan, gue liat juga kayak gitu. Bayangkanlah sepasang cowok dan cewek straight pacaran, lalu selama pacaran melakukan hubungan anu, lalu putus. Siapa yang paling ngerasa nyesek? Lo pada mungkin udah pada tahu jawabannya.

Well, di saat si cewek mungkin trauma, menyesal, malu udah nggak suci, merasa kotor, memiliki bekas yang nggak bisa hilang (entah hamil atau apa).........

Si cowok? Dia tidak berbekas. Bahkan mungkin tidak merasa malu dan menyesal sama sekali. Dia merasa bebas. Bahkan mungkin dia dengan jahatnya menyebarkan foto-foto telanjang pacarnya, atau menceritakan ke teman-teman satu gengnya betapa pacarnya itu sudah tidak suci.

Dan di sinilah menurut gue yang paling nggak beres.

Well, ketika seorang cewek, foto telanjangnya tersebar, kemudian gosip tentang dia melakukan anu tersebar, cewek itu otomatis langsung diberikan pandangan negatif dan dikucilkan. Cowoknya? Kagak! Cowoknya masih bisa cerita tentang kehebatannya menaklukan cewek sambil ketawa-ketawa bareng temen-temennya!

Padahal biar bagaimanapun, dalam kasus ini, si cewek bukan subjek satu-satunya. Si cowok juga merupakan subjek yang bersama-sama mereka melakukan perbuatan tercela! Tapi ini gimana ceritanya beban psikologisnya jadi jomplang cuma berat di ceweknya doang?

Tapi karena term "perjaka" nggak akan pernah sepopuler "perawan", jadi gue cuma bisa ingetin perempuan untuk bisa clear-thinking ketika godaan untuk melakukan itu datang.
Coba perhatiin baik-baik cowok yang ngajak lo melakukan itu, jangan-jangan selama ini dia mukanya jelek tapi lo gak nyadar?
Hahaha nggak-nggak, coba pikir aja, apa menurut lo dia pantes dapetin lo padahal dia belom sepengorbanan itu loh ke lo. Dia belom jadi suami lo, ngasih lo nafkah, dll, tapi cuma mau dapetin enaknya aja. Apa lo udah bisa bilang dia menghormati lo?

--------------------------------------------------------------------------------

Indonesia ini negara yang mengembangkan budaya malu

"Jangan pulang malem, malu ama tetangga!"
"Laki-laki kok sholat di rumah? Malu-maluin!"

Apakah budaya malu ini baik? Mungkin............

Kelemahannya, berarti budaya malu ini hanya efektif jika di sana ada orang yang melihat kita melakukan hal salah.
Nah berarti supaya gak malu, yang perlu kita lakukan hanyalah berbuat salah ketika tidak ada orang yang melihat kita kan?

Lagi bulan puasa di rumah ga ada siapa-siapa? Makan aja nggak ada yang ngeliat!
Korupsi setoran pajak perusahaan X ah mumpung nggak ada yang ngeliat!
Kostan sepi dikit, bawa pacar ke kamar. Nggak ada yang ngeliat!
Eh di kuburan juga nggak ada yang ngeliat!

Gimana? Masih berpikiran budaya malu ini baik?

Jadi harusnya budaya apa dong?

Budaya guilt! Atau budaya merasa bersalah.
Lo salah ya merasa bersalah lah, regardless ada orang yang ngeliat lo atau nggak. Ketika guilt udah terinternalisasi dalam diri lo tiap kali lo berbuat salah, lo udah ngebentuk suatu "self-punishment" yang akan membuat lo mikir "ah gue nggak akan ngelakuin ini (lagi)."

Lo menghindari kesalahan simply karena lo ngerasa gak enak dengan perbuatan lo itu. So, lo lebih inward, internal, dan nggak terpengaruh gimana konteks di luar atau oleh faktor eksternal.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Well, yang satu ini sebenarnya selingan.

Gue semacam tau laki-laki yang pernah pacaran beberapa kali dengan perempuan dan hampir semua perempuan itu tidak ia hormati.

Lalu suatu kali ia mungkin merasa seperti dimutilasi oleh perempuan terakhir yang tidak ia hormati itu, lalu ia merasa kapok(?) dan jadi terlihat sangat mendekatkan diri ke agama gitu.

Gue mah ketawa aja ngeliatnya.

Nggak-nggak, gue nggak sebejat itu untuk ngetawain orang yang mau dekat dengan agama. Gue ketawa karena sebenernya sejak dulu pun konsep agama anak laki-laki ini cukup lucu. Dia bahkan pernah berpikir untuk menyeimbangkan perbuatan bejatnya dengan banyak melakukan ibadah sunah. Dengan kata lain, maksiat jalan, tapi ibadah sunah jalan. Well, he tried so hard as hell to make it BALANCE.

Gue mah ketawa aja ngeliatnya (2).

Makanya ketika kemudian akhirnya dia pada tahap kapok dan (sok) mendekati agama, gue sih sangat ingin ketawa, banget. I mean, ada ya orang sebodoh dia..........
Nature versus nurture, heredity vs environment, adalah perdebatan yang nggak pernah habis di dalam psikologi, walaupun akhirnya banyak yang memutuskan bahwa semuanya memiliki pengaruh. Kemudian munculah pertanyaan lain, seberapa jauh pengaruh masing-masing?

Gue bertanya-tanya apakah sebagian manusia memang terlahir dengan intensi suicidal yang lebih tinggi dibandingkan manusia-manusia lainnya. Dan kalaupun iya, pertanyaan selanjutnya adalah terkait mekanistik dan organismik, apakah sebagian manusia ini memiliki free will atau justru determinis? Apakah dia bisa mengendalikan intensi suicidal-nya atau justru intensi itu yang akan menentukan jalan yang akan ia tempuh nanti menuju kematian?

Barangkali ini terkait dengan pernyataan yang dikemukakan Sigmund Freud bahwa manusia memiliki death drive yaitu thanatos, mengingat bahwa manusia sebenarnya sadar ia adalah bagian dari tanah, kemudian ia bertingkah laku destruktif, dalam kasus ini, menghancurkan dirinya sendiri.

Tunggu, sejak kapan gue percaya teori Freud?

Mungkin gua terlahir dengan intensi suicidal above average karena bahkan menurut ibu gue, gue udah pernah mengancam akan commit suicide sejak gue umur tiga tahun. Sayangnya gue mengalami infantile amnesia, malahan ingatan gue sampe gue masuk SD aja masih blur banget, bisa dibilang gue nggak inget apa-apa selain yang diceritain ibu gue. Makanya waktu ibu gue bilang gue pernah mengancam seperti itu, gue nggak bisa mengingat-ingat apakah pada saat itu gue emang udah mengerti apa yang dimaksud dengan suicide atau cuma asal ngomong belaka? Kalaupun ngerti, emangnya gue tau metode yang akan gue lakukan seperti apa?

Tapi ajaibnya, yang jelas, setelah beberapa kali attempt suicide dan seringkali kill myself in my mind, ternyata gue masih hidup sampai sekarang. Entah ini gara-gara apa, tapi yang jelas sejak pertengahan SMA, gue nggak pernah attempt suicide secara serius lagi. Walaupun entah kenapa setiap gue lelah dengan kehidupan kuliah, dan hidup, ketika gue menyeberang rel kereta, dan ada kereta berjalan ke arah gue, gue punya kecenderungan untuk memelankan langkah kaki gua, atau malah berhenti total di tengah rel sampai sekian detik kemudian sadar.

Gue mulai bisa mengenali tanda-tanda ketika gue mulai lelah. Gue juga sudah bisa membedakan mana gue yang lelah biasa dan lelah yang akan berlanjut pada tindakan destruktif. Ketika gue lelah in destructive term, gue cenderung sangat sering menghela nafas panjang walaupun sebenarnya saat itu gue nggak lagi ngapa-ngapain. Biasanya juga nafsu makan gue berkurang atau justru berlebihan, sangat menyukai tidur dan biasanya sangat tidak termotivasi untuk bangun, dan nggak mau mengerjakan hal yang produktif.

Nah, lalu bagaimana gue mengintervensi diri gue sendiri?

Pertama, gue bersyukur karena gue bisa mengenal diri gue seperti ini. Gue nggak denial bahwa gue emang punya kecenderungan suicidal yang cukup di atas rata-rata orang pada umumnya. Gue berusaha untuk menyadari itu, karena kalau gue repress dan masuk ke unconscious, sekalinya meledak keinginan itu, gue takutnya malah benar-benar terlaksana. Gue akan terus menyadarkan diri gue bahwa gue memang punya intensi seperti itu, karenanya gue harus lebih hati-hati mulai dari ketika gue menyeberang jalan, menyeberang rel, jalan di jembatan layang, atau ketika sedang memegang benda tajam. Gue harus memotivasi diri gue bahwa gue nggak punya hak buat menghancurkan diri gue, karena bukan gue yang menciptakan diri gue. Selain itu, gue juga punya skenario kematian yang lebih bagus dan gue mencoba untuk percaya akan hal itu.

Kedua, well, ketika gue menyadari tanda-tanda itu muncul di diri gue, segeralah bertindak. Dulu waktu SMA gue pernah dalam keadaan sangat ketakutan dan nggak tahu harus kabur ke mana. Waktu itu malam hari. Gue takut untuk menutup mata karena gue membayangkan seandainya di tengah-tengah kesadaran gue yang minim di ambang tidur-bangun gue sleepwalking dan melakukan tindakan yang nggak gue harapkan. Jadi, pada malam itu, gue tidur dengan tasbih yang membelit kedua tangan gue.

Ketiga, gue udah berdiskusi dan berterusterang kepada ibu gue bahwa gue punya kecenderungan seperti ini dan memang pernah beberapa kali mencoba tindakan destruktif ini. Karenanya, gue mendapat support dan reminder yang gue butuhkan. Dan gue percaya ketika lo mengungkapkan masalah lo ke orang lain verbally, masalah itu jadi terlihat lebih possible untuk diselesaikan dan gak seberat kalo tetap lo simpan di dalam pikiran tanpa lo tuangkan ke tulisan maupun lisan.

Well, ketika orang lain mengaku gay/lesbi di sebuah postingan (istilahnya melela), gue malah mengaku punya kecenderungan suicidal yang di atas rata-rata. Gue sebenarnya hanya ingin membuka diri, bahwa ada lho manusia yang seperti gue yang berjuang bukan hanya dirinya dengan orang lain, melainkan juga dirinya dengan dirinya sendiri.

Yeah, kalian gak usah takut, gue akan menjamin bahwa gue tidak akan mati di tangan gue sendiri. Gue akan selalu berjuang untuk hidup. Dan tidak lupa, hidup dengan bahagia.

Kalau kamu bilang jawabannya adalah dengan mendekatkan diri dengan agama...
Well, I'm on my way :)
Diawali dengan upload foto hasil dari screenshot IG-nya nunu
VIVA LA DEPARTEMEN PENELITIAN!!!
(minus Feny dan Rohman)

gue gatau mau ngomongin apa sebenernya, gue hanya baper karena muker udah selesai. gue juga baper karena di hp gue ga ada foto muker. muka gue banyaknya di hape orang, dan gue baru minta dari hp-nya Ellen doang padahal muka gue banyak juga di hp dan kamera lain (uhuk uhuk lirik kameranya Munif)

but first, lemme memperkenalkan anak-anak penelitian terlebih dahulu


yoi, gue akan perkenalkan mereka secara singkat.
dulu awal banget gue kira orang yang pertama gue temui di penelitian adalah riski, yang mana kita itu satu fakultas... ternyata bukan!!!
ternyata gue sudah jauh lebih lama ketemu sama kadept penelitian dan deputi penelitian sebelumnya... yaitu restu dan bang randy
yang mana ternyata kami bertiga beberapa kali ketemu di lomba/olimpiade ekonomi... bahkan kalo gue gak salah waktu itu bang randy duduk di belakang gue pas semifinal OAPM PNJ.... dan restu ada di sebelah gue waktu final olim eko di UNISMA............
khusus buat bang randy, selain ketemu beberapa kali di perlombaan, ternyata plis banget kita itu tetangga beda cluster doang :( sesama deltamas :( terus udah gitu hape kita sama jenis dan warnanya(?) ya gak kenapanapasi(?)

semacam gokil bahwa dunia sesempit itu.
yang juga pernah gue temui sebelum tergabung di KSM yaitu Nunu, tapi gak lama-lama amat sih, tepatnya sekitar januari 2016 di Kantor Greenpeace Indonesia. Gue inget banget waktu itu dia duduk di ujung, memperkenalkan namanya dan setelah dia bilang biasa dipanggil nunu terus pada ketawa. kenapa ketawa ya dipikir-pikir.

yang lainnya adalah yuli, feny, rohman, dan dian. alkisah feny pernah gue whatsapp dulu juga sebelum tergabung di KSM. dan gue kira dia senior. rohman, gue baru ketemu di KSM. tapi salut banget sama kemampuannya ngolah data. Dian, anaknya kalem tapi asik dan murah senyum. Kalo Yuli, dia doyan nyanyi, heboh, dan tidak jaim. padang banget uga.


yang gue salut kami walopun background-nya beda-beda, tapi tetep punya satu tujuan dan bener-bener bertekad untuk me-merge seluruh pengetahuan yang kita punya ke satu arah (cie 1D)
gue berharap sih semoga kita selalu solid yak dan semakin berprestasi!!! semoga tercapai cita-cita ke luar negeri bareng-barengnya :))

-----------------------------------------------------

dan di luar penelitian, aing juga baper pas muker sih(?) baper mele wey



jadi di KSM, gue malah ketemu temen SMA gue wkwkwkwk Rahmah! padahal waktu di SMA gue gak yakin kita pernah ngobrol panjang, tapi sekarang dia jadi salah satu teman terdekat gue di organisasi kuliah! wkwkkwk hidup memang tak bisa ditebaque(?)


dan yang ini kami+ellen. kita kab. bekasi sentris! 2 cikarang 1 babelan wkwkwk kalo udah ketemu saling membully. harusnya tambah kak randy juga nih.

ya udah deh segitu dulu, aing sebenernya mau kuis besok jam 8 tapi sekarang malah belum tidur yeha
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home